- HOME
- Daftar Isi
- Contact Us
- Services
- Title For Links
- These Links Still Appear
- Just Like The Others
- Even When Under A Title
- Title After Divider
- Once Again...
- These Links Still Appear
- Just Like The Others
- Even When Under A Title
- Very Long Item
- Title For Links
- These Links Still Appear
- Just Like The Others
- Even When Under A Title
- Title After Divider
- Once Again...
- These Links Still Appear
- Just Like The Others
- Even When Under A Title
- Fully Flexible
- Title For Links
- These Links Still Appear
- Just Like The Others
- Even When Under A Title
- Title After Divider
- Once Again...
- These Links Still Appear
- Just Like The Others
- Even When Under A Title
Tampilkan postingan dengan label Q Dan EngkaU. Tampilkan semua postingan
Soe Hok Gie
Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember
1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe
An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet
alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga
dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok
Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di
pinggir-pinggir jalan di Jakarta.
Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok
Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di
pinggir-pinggir jalan di Jakarta.
Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan
sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta
Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia
begitu dekat dengan sastra.
Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih
sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius,
sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada
di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan
kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen pram termasuk
langka pada saat itu?
Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.
Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.
Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.
Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.
Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.
Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.
Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.
Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.
Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.
Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.
Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua
hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali
Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun
keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal
sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan
tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak
Gunung Pangrango.
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.
Catatan
Seorang Demonstran

John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Kata Kata Soe
Hok Gie
- Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
- Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
- Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
- Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
- Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
- Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
- Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
- Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
- Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
- Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
- Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
- Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
- Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
- To be a human is to be destroyed.
- Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
- Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
- I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
- Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
- Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
- Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
- Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Hari berganti seiring berlalunya waktu, namun harap Q untuk selalu bersanding di samping mu tak kan pernah memudar bahkan semakin terasa menggunung. Perjalan panjang yang Q lalui bersama mu telah membuat diri ini tersadar bahwa hidup tak selamanya Q tempuh dalam kesendirian. Q sadar sekarang dengan kehadiran mu hidup Q semakin berwarna dan membuat Q semakin mengertitentang arah dan langkah yang harus dan yang musti Q tempuh.
Maafkan Q yang telah begitu lancang mencintaimu, dan maafkan Q yang tak mampu membendung rasa cinta yang telah menggunug, bersama kata hati Qyang Q tulis melalui selambar surat ini Q curahkan bahwa Q mencintai mu.
Q memang mencinta mu, dan apakah salah jika Q ungkapkan apa yang Q rasakan sekarang ini, walau Q sadar begitu aneh rasa ini hadir, namun Q tak mampu menolak tentang semua yang terjadi, semuanya telah begitu saja terjadi tanpa Q tambahi dan tanpa pula Q kurangi,semuanya mengalir begitu saja pada alurnya, tak ada yang patut untuk disalahkan karena semua terjadi atas kehendak_Nya. Semuanya telah terjadi begitu saja, terkemas rapi dalam episode-episode kebersamaan yang telah kita lewatkan berdua,sebagai mana lakon hidup yang telah tertuliskan pada takdir Tuhan, hingga tercipta rasa yang tak mampu tertahan kan ini, Q tak pernah tau apakah kejujuran ini mampu membuat mu berucap apa yang mesti kamu ucapkan,
Itulah kepolosan hati Q yang sebenarnya, dan mungkin Q terlalu telanjang dalam penyampaian Q, namun dengan semua ini Q mampu merasakan ketanangan dalam hati Q sebab apa yang Q pendam selama ini telah mampu Q ungkapkan, mungkin mengaetahui semua ini akan sedikit membuat mu berfikir, apakah yang Q tulis ini hanya sekedar prosa tanpa makna, atau ini hanya sebahai ungkapan biasa tanpa jeda, namun Q berharap bahwa kamu bisa menghayati apa yang Q tulis, bahwa apa yang Q tulis ini adalah gambaran dan curahan nyata dari hati yang selama ini Q pendam dan selama itu pala Q harapkan jawaban nyata dari hati mu.
Apakah kamu juga mencintai Q?????!!!!!”
Maafkan Q yang telah begitu lancang mencintaimu, dan maafkan Q yang tak mampu membendung rasa cinta yang telah menggunug, bersama kata hati Qyang Q tulis melalui selambar surat ini Q curahkan bahwa Q mencintai mu.
Q memang mencinta mu, dan apakah salah jika Q ungkapkan apa yang Q rasakan sekarang ini, walau Q sadar begitu aneh rasa ini hadir, namun Q tak mampu menolak tentang semua yang terjadi, semuanya telah begitu saja terjadi tanpa Q tambahi dan tanpa pula Q kurangi,semuanya mengalir begitu saja pada alurnya, tak ada yang patut untuk disalahkan karena semua terjadi atas kehendak_Nya. Semuanya telah terjadi begitu saja, terkemas rapi dalam episode-episode kebersamaan yang telah kita lewatkan berdua,sebagai mana lakon hidup yang telah tertuliskan pada takdir Tuhan, hingga tercipta rasa yang tak mampu tertahan kan ini, Q tak pernah tau apakah kejujuran ini mampu membuat mu berucap apa yang mesti kamu ucapkan,
Itulah kepolosan hati Q yang sebenarnya, dan mungkin Q terlalu telanjang dalam penyampaian Q, namun dengan semua ini Q mampu merasakan ketanangan dalam hati Q sebab apa yang Q pendam selama ini telah mampu Q ungkapkan, mungkin mengaetahui semua ini akan sedikit membuat mu berfikir, apakah yang Q tulis ini hanya sekedar prosa tanpa makna, atau ini hanya sebahai ungkapan biasa tanpa jeda, namun Q berharap bahwa kamu bisa menghayati apa yang Q tulis, bahwa apa yang Q tulis ini adalah gambaran dan curahan nyata dari hati yang selama ini Q pendam dan selama itu pala Q harapkan jawaban nyata dari hati mu.
Apakah kamu juga mencintai Q?????!!!!!”
Maafkan
Q, Jelek yang tak mampu bersanding pada tahta ketulusan kasih mu, biarlah semua
kisah ini berlalu layaknya embun pagi yang menguap terbang bersama angin
melintasi cakrawala mencari bunga-bunga yang mulai layu mengering karena
panasnya mentari, terkadang kita musti belajar pada mentari yang mencintai ibu
pertiwi namun tak menjadikan mentari mendekat memeluk ibu pertiwi,yang akan
menjadikannya terbakar. Q akui Q masih terlalu banyak menimbang,namun dalam doa
tak pernah lekang Q sebut nama mu, Q pun mengakui telah banyak canda dan tawa
termasuk air mata yang menetes entah karena sedih atau pun bahagia telah
terukir dalam pahatan jalannya waktu yang telah kita lewati bersama.
Q
akui juga ada kedamai yang tercipta dikala kita berdekatan, menyatukan tangan
mengisi disetiap sela-sela jari,melahkah seirama beriringan, bercanda bercerita
apa saja hingga kebisuan hadir menciptakan keheningan yang menjadikan kita
hanya saling memandang.
Namun
harus Q akui juga bahwa Q tidaklah mampu menerima nama lain mengisi relung hati
Q,cukuplah kita akhiri episode ini,kaulah yang terindah dari semua yang ada,
terimakasih akan semua waktu yang pernah kita ukirkan pada jalannya waktu,(
semoga kebersamaan ini akan tetap ada diantara beningnya nurani)
04/08/2012,di hari itu menjadi saksi dari sekelumit kisah yang terjadi diantara kita,sebuah kisah terindah yang telah di tuliskan Tuhan untuk kita, dan di hari itu juga kita berkumpul menjadi satu bukan hanya untuk buka bersama,namun lebih dari itu ada makna yang lebih mendalam yaitu melebur kerinduan yang telah lama terpendam,berkumpul bersama berbagi cerita,saling lempar senyum dan semua terasa menenangkan hati,seakan-akan beban hidup yang telah menyesakan dada,yang menghatui pikiran setiap saat serasa melubur,hilang tertiup angin,hancur oleh kebersamaan yang telah kita ciptakan.
Sungguh besar kuasa Tuhan yang telah menuliskan kisah kita,kita yang berlatar belakang berbeda-beda dan tempat tinggal yang berbeda-beda pula,namun dengan kuasanya kita di pertemukan di SMANSALAND di jadikan satu dalam satu kelas yang sering disebut X6,selama setahun kita menjadi aktor dan aktris yang ditunjuk Tuhan untuk berperan sesuai peran yang telah di Tuliskan_Nya. Ya ,,,,selama satu tahun itu telah banyak cerita yang kini menjadi legenda yang telah kita ciptakan,sebuah legenda yang tak pernah bisa tergantikan dan terhapuskan,oleh apa pun.
Q percaya ada rahasia besar dari Tuhan yang telah dituliskan untuk kita,sebuah rahasia yang hanya waktu yang bisa menjawab semua,selayaknya air yang mengalir,cerita demi cerita berlalu menjelma menjadi kenangan terindah yang telah kita jalani selama di X6,ada kesedihan,ada canda tawa,ada rasa jengkel dari para guru-guru yang menurunkan ilmunya untuk kita karena kebandelan kita,bahkan Q masih ingat ada guru yang menangis,karena tidak kuasa menahan amarahnya karena kebandelan kita,Ya,,,,itu semualah yang menjadikan kita dewasa seperti sekarang ini,namun Q harap kedewasaan itu tidak serta merta meleburkan sikap manja dan Cengegesan kita,karena semua itu yang akan meleburkan ketegangan hidup yang mengencangkan saraf-saraf kita dan kebutuhan hidup yang selalu menghantui pikiran,
Q harap Kita keluarga besar X6 dan juga keluarga besar SMANSALAN akan terus saling mengingat dan saling menjalin komunikasi walau kini kita telah di sibukan dengan urusan duniawi masing-masing,namun kesibukan itu tidak menjadikan kita lupa satu sama lain,karena walau bagaimana pun kita semua adalah keluarga dan kita adalah bagian dari legenda masalalu yang saling melengkapi cerita kehidupan kita,yang menjadikan kita seperti sekarang ini,mungkin kalau dulu kita tidak bersama,akan menjadi lain cerita kehidupan yang saat ini kita jalani.
Teman-teman Q semua,Q selalu merindukan kalian semua.
Sungguh besar kuasa Tuhan yang telah menuliskan kisah kita,kita yang berlatar belakang berbeda-beda dan tempat tinggal yang berbeda-beda pula,namun dengan kuasanya kita di pertemukan di SMANSALAND di jadikan satu dalam satu kelas yang sering disebut X6,selama setahun kita menjadi aktor dan aktris yang ditunjuk Tuhan untuk berperan sesuai peran yang telah di Tuliskan_Nya. Ya ,,,,selama satu tahun itu telah banyak cerita yang kini menjadi legenda yang telah kita ciptakan,sebuah legenda yang tak pernah bisa tergantikan dan terhapuskan,oleh apa pun.
Q percaya ada rahasia besar dari Tuhan yang telah dituliskan untuk kita,sebuah rahasia yang hanya waktu yang bisa menjawab semua,selayaknya air yang mengalir,cerita demi cerita berlalu menjelma menjadi kenangan terindah yang telah kita jalani selama di X6,ada kesedihan,ada canda tawa,ada rasa jengkel dari para guru-guru yang menurunkan ilmunya untuk kita karena kebandelan kita,bahkan Q masih ingat ada guru yang menangis,karena tidak kuasa menahan amarahnya karena kebandelan kita,Ya,,,,itu semualah yang menjadikan kita dewasa seperti sekarang ini,namun Q harap kedewasaan itu tidak serta merta meleburkan sikap manja dan Cengegesan kita,karena semua itu yang akan meleburkan ketegangan hidup yang mengencangkan saraf-saraf kita dan kebutuhan hidup yang selalu menghantui pikiran,
Q harap Kita keluarga besar X6 dan juga keluarga besar SMANSALAN akan terus saling mengingat dan saling menjalin komunikasi walau kini kita telah di sibukan dengan urusan duniawi masing-masing,namun kesibukan itu tidak menjadikan kita lupa satu sama lain,karena walau bagaimana pun kita semua adalah keluarga dan kita adalah bagian dari legenda masalalu yang saling melengkapi cerita kehidupan kita,yang menjadikan kita seperti sekarang ini,mungkin kalau dulu kita tidak bersama,akan menjadi lain cerita kehidupan yang saat ini kita jalani.
Teman-teman Q semua,Q selalu merindukan kalian semua.







